Kesepakatan Trump-Xi Disebut Momen Bersejarah, Ini Isinya
Trump klaim kesepakatan dagang besar dengan Xi Jinping. China disebut beli 200 pesawat Boeing dan bahas Selat Hormuz.
Ilustrasi ransomeware pada sistem IT. ANTARA/Pexels/Tima Miroshnichenko
JAKARTA—Praktisi teknologi informasi (IT) memaparkan bahwa ada sejumlah strategi efektif untuk mengamankan penyimpanan data dari serangan perangkat pemeras (ransomware).
"Saat ini, dunia tengah diguncang oleh gelombang serangan 'ransomware' yang telah mengganggu operasi berbagai lembaga pemerintah dan swasta," kata Praktisi IT DR. Simon Simaremare saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (28/6/2024).
Menurut dia, serangan yang saat ini terjadi menunjukkan bahwa betapa rentannya sistem keamanan terhadap ancaman siber.
Ia mengatakan bahwa, meski perusahaan-perusahaan keamanan telah berupaya keras untuk mengatasi serangan ini, kenyataannya serangan siber terus meningkat.
Simon yang pernah bekerja di Cisco, Microsoft, IBM, dan Purestorage, perusahaan teknologi informasi yang berpusat di Amerika Serikat itu menganalogikan antara sistem keamanan dan serangan siber seperti polisi dan penjahat.
"Penjahat akan selalu mencari cara baru untuk melakukan kejahatan, begitu juga dengan pelaku serangan siber yang selalu menemukan celah-celah baru untuk dieksploitasi. Tujuan akhir dari serangan ini adalah data," katanya.
Untuk itu, Simon memaparkan sejumlah strategi dalam melindungi dan mengamankan penyimpanan data dengan mengimplementasikan konsep penyimpanan data yang benar.
Berikut adalah beberapa strategi yang dapat diadopsi;
Safe mode dengan retensi yang dapat disesuaikan yaitu satu minggu, satu bulan, hingga setahun dapat melindungi data secara efektif. Snapshot saja tanpa fitur safe mode, maka hasil snapshot tersebut masih bisa dihapus dan dihilangkan.
Adanya snapshot dan safe mode, maka snapshot tidak bisa dihilangkan atau dihapus oleh ransomware sehingga data dapat dipulihkan dalam hitungan menit atau bahkan detik, tergantung jumlah data.
Data "backup" yang "immutable" tidak bisa dihapus, dimodifikasi, atau dienkripsi oleh "malware". Ini memberikan lapisan perlindungan tambahan yang signifikan.
Fast backup tanpa fast recovery tidak banyak membantu saat data diserang ransomware. Kemampuan untuk memulihkan data dengan cepat adalah kunci untuk mengatasi serangan ransomware.
"Jika poin pertama diimplementasikan dengan baik, maka sistem backup dapat digunakan untuk penyimpanan jangka panjang," katanya.
Sementara kata Simon, dengan adanya "backup immutable copy", serangan ransomware tidak akan memberikan efek signifikan dan pemulihan data hanya membutuhkan hitungan menit bahkan detik.
Menurut dia, pemulihan data langsung dari penyimpanan utama (primary storage) jauh lebih efisien dibandingkan dari cadangan (backup), yang memiliki batas kecepatan "restore" tergantung teknologinya.
"Saat ini, kebanyakan sistem backup di Indonesia hanya memiliki kemampuan memulihkan (restore) satu terabyte per jam, hanya sedikit sistem yang mampu melakukan restore data dari backup di atas 10 terabyte per jam," katanya.
Oleh karena itu, Simon mengatakan teknologi dan strategi penyimpanan data yang tepat sangat penting dalam menghadapi serangan ransomware. ANTARA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Trump klaim kesepakatan dagang besar dengan Xi Jinping. China disebut beli 200 pesawat Boeing dan bahas Selat Hormuz.
Prabowo menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski kurs dolar dan ekonomi global bergejolak.
Sembilan provinsi memperbolehkan bayar pajak kendaraan 2026 tanpa KTP pemilik lama untuk STNK tahunan kendaraan bekas.
Dishub Bantul menertibkan PKU dengan tagihan listrik membengkak hingga Rp1 juta per bulan di ratusan titik penerangan kampung.
OJK mencatat pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,82% menjadi Rp716,40 triliun hingga Maret 2026.
Prabowo menyebut 1.061 Koperasi Merah Putih berhasil dioperasikan dalam tujuh bulan untuk memperkuat ekonomi desa.